Jumat, 24 April 2009

MELIHAT TANDA-TANDA KEMATIAN

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”. Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang kebangkitan (ruh dari jasad)……….”. (QS Luqman 31 : 34)

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu…….. “. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :

“Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)

Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.

“Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2 : 180)

“Dan orang-orang yang akan meninggalkan dunia diantaramu dan meninggalkan istri-istrinya hendaklah ia berwasiat untuk istri-istrinya ……….. “. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

“Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

“Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : ”Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan. Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : “Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.


3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.


5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.


7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.


9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.


11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.


13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.


15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang oleh Nur Muhammad ke hadirat Ilahi Rabbi.

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperoleh tanda-tanda ini sehingga beliau menyiapkan dirinya untuk menghadapi datangnya kematian. Beliau menyiapkan dirinya dengan mandi dan berwuduk serta mengkafani tubuhnya, kecuali bagian kepalanya. Kemudian Imam Ghozali meminta kakaknya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk meneruskan mengkafani kepala beliau. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafani bahagian mukanya.



Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)

Jumat, 10 April 2009



KIAT SELAMAT DI HARI KIAMAT

Oleh : Abu Irsyad

Pada saat ini, kajian tentang masalah datangnya Hari Kiamat atau Armagedon sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Mereka mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tergantung dari latar belakang keilmuan dan agamanya masing-masing.Gencarnya pemberitaan Kiamat yang beragam, menyebabkan kesimpangsiuran tentang pengertian Kiamat itu sendiri, sehingga diperlukan pembahasan masalah tersebut, untuk meluruskan pengetian masyarakat tentang Kiamat yang sebenarnya. Kata kiamat berasal dari kata serapan Bahasa Arab, Qiyamat, yang mempunyai arti Kebangkitan. Menurut kaum sufi, Kiamat di bagi menjadi dua jenis, yaitu kiamat kecil (sughro) dan kiamat besar (kubro).Kiamat kecil dibagi menjadi dua jenis yaitu : Kiamat Lahir dan Kiamat Mati. Sedangkan kiamat besar terdiri dua jenis, yaitu : Kiamat Ma’rifat dan Kiamat Akhlak.

Kiamat lahir adalah proses terjadinya kebangkitan Ruhani ke dalam jasmani seorang manusia. Peristiwa ini dinamakan kelahiran atau natal atau milad. Kiamat mati adalah proses terjadinya kebangkitan ruhani dari jasmani seorang manusia. Peristiwa ini dinamakan kematian atau meninggal dunia atau wafat. Kiamat ma’rifat adalah proses terjadinya kebangkitan ruhani dari jasmani seorang manusia menuju Allah, ketika sedang melakukan sholat. Peristiwa ini dinamakan mati syahid. Kiamat Akhlak adalah proses terjadinya kebangkitan akhlak ruhani manusia menuju akhlak Allah secara kolektif. Peristiwa ini dinamakan Kebangkitan Darus Salam atau Kebangkitan Khalifatul Mahdi atau Kebangkitan Kerajaan Tuhan atau Kebangkitan Ratu Adil atau Kebangkitan Zaman Baru.


Kapan terjadinya semua jenis kiamat tersebut, hanya Allah Swt Yang Maha Tahu. Kita hanya tahu lewat tanda-tanda akan datangnya empat jenis Kiamat tersebut. Tanda-tanda akan datangnya ke empat jenis kiamat tersebut pada dasarnya sama, yaitu selalu diawali dengan datangnya kegoncangan atau Al zilzal. Perbedaanya adalah, kegoncangan pada kiamat lahir, mati, dan ma’rifat berasal dari dalam diri dan hanya dirasakan oleh pribadi yang mengalaminya saja. Sedangkan pada kiamat akhlak, kegoncangan berasal dari bencana alam dan akan dialami oleh seluruh umat manusia di muka bumi.

Menurut kaum sufi, kiamat akhlak sudah sering terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia di muka bumi atau di belahan alam semesta lainnya (misalnya : supernova atau ledakan bintang). Kiamat akhlak akan terjadi apabila periode kehidupan umat manusia telah didominasi oleh Akhlakul Sai'ah (Akhlak Yang Buruk). Untuk memperbaiki keadaan tersebut, maka Allah akan mengutus para Mundzirin (Juru Ingat) yang bertugas untuk membawa umat manusia ke Tatanan Akhlakul Karimah (Akhlak Yang Mulia). Jika hal ini tidak berhasil, barulah Allah akan membinasakan umat tersebut dengan bencana yang bersifat global. Bencana global ini mengakibatkan kemusnahan umat manusia dan makhluk hidup lainnya dalam jumlah besar dan juga kehancuran peradabannya. Kemudian umat manusia yang berakhlak mulia beserta hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang masih tersisa atau selamat dari peristiwa kegoncangan kiamat akhlak tersebut, akan melanjutkan perjalanan hidupnya kembali dan mulai membangun peradaban yang sama sekali berbeda dengan peradaban yang telah hancur sebelumnya.Disinilah perbedaanya, antara konsep kiamat menurut kaum sufi dengan golongan lainnya.

Menurut kaum sufi, kiamat besar (jenis ke empat) bukanlah kehancuran total alam semesta, tetapi merupakan hukum Tuhan atau sunatullah untuk memperbaiki suatu peradaban makhluk hidup ke arah yang lebih baik.

“Dan apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana akibatnya orang-orang sebelum mereka? Mereka (umat terdahulu) adalah lebih kuat peradabannya daripada umat sekarang dan lebih banyak bekas-bekas mereka di bumi, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Dan tiadalah seorang yang melindungi mereka dari azab” (QS Al Mukmin 40 : 21)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka perhatikan bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka? Mereka (umat terdahulu) adalah lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat (peradabannya) dan lebih banyak bekas-bekasnya di muka bumi dari umat sekarang, maka tiadalah berguna bagi mereka apa-apa yang telah mereka ciptakan”. (QS Az Zukhruf 43 : 12-13)

“Dan berapa banyak umat yang Kami musnahkan sesudah Nuh dan cukuplah Tuhanmu yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya”. (QS Al Isra 17 : 16)

“Ketahuilah telah musnah bangsa Madyan seperti bangsa Tsamud yang telah binasa”. (QS Hud 11 : 95)

Saat ini, para ahli sejarah dan arkelog, telah menemukan beberapa bukti sejarah yang berkaitan dengan kemusnahan peradaban manusia di masa lampau, seperti hilangnya benua Atlantis dan Lemuria serta beberapa peninggalan yang tersisa dari beberapa suku bangsa seperti kota suku Maya dan Inca di Peru, Kuil Matahari di Parhaspur Kashmir, Kota Dalam Tanah Derinkuyu dan Kaymakli di Turki, Patung Nemrud Dag setinggi 2150 m di tengah reruntuhan Piramid Nemrud Dag di Turki, Kota Batu Kuno di Yordania serta Piramid Giza di Mesir. Setelah diselidiki oleh para ilmuwan,mereka sepakat bahwa semua situs peninggalan bangsa-bangsa tersebut, dibangun pada masa ribuan tahun sebelum Masehi, dengan teknologi yang sangat tinggi. Dan yang sangat mengejutkan adalah telah ditemukan jejak radio aktif di beberapa situs tersebut.

Berdasarkan penyelidikan para ilmuwan, penyebab musnahnya umat manusia beserta peradabannya itu adalah akibat peperangan diantara mereka yang menggunakan persenjataan yang sangat canggih. Kisah ini diabadikan dalam beberapa prasasti dan mitos yang ada dalam buku-buku beberapa suku bangsa (Legenda Atlantis, Lemuria, Huwaiki, Greek, Mabinogion) atau kitab suci seperti kisah perang Barata Yudha di padang Kurusetra dalam Baghawad Gita. Di dalam Bagwad Gita telah dikisahkan peperangan antara Pendawa dan Kurawa yang masih bersaudara, yang melibatkan banyak pasukan yang dipersenjatai dengan senjata Pamungkas yang sangat canggih, yang bisa melesat terbang di udara, mungkin sejenis Rudal Balistik, Laser Beam atau Termonuklir. Penggunaan persenjataan tersebut, mengakibatkan ledakan radiasi tingkat tinggi, yang mengakibatkan kemusnahan dan kehancuran peradaban mereka. Didalam Al Qur’an ledakan radiasi termonuklir ini, disebut dengan istilah ”suara yang sangat keras” atau Shaihah.

“Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka suara yang sangat keras maka jadilah mereka seperti rumput-rumput yang kering”. (QS Al Qamar 54 : 31)

“Dan orang yang zalim itu telah dibinasakan oleh suara yang sangat keras lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. (QS Hud 11 : 94)

Kehancuran umat terdahulu juga disebabkan oleh gempa vulkanik dan juga tektonik yang sangat besar. Dalam sejarah telah tercatat letusan gunung Tambora Purba, Toba Purba dan Krakatau Purba, yang menyebabkan gempa vulkanik yang sangat besar, gelombang Tsunami yang sangat tinggi (130 m) serta penurunan suhu bumi yang sangat rendah. Peristiwa ini diabadikan dalam cerita mitos oleh Plato dalam bukunya : Dialog Timeaus dan Critias. Buku ini sampai sekarang masih tersimpan di Athena Yunani. Intisari dari buku ini adalah Dialog antara antara Timeaus dan Critias, yang keduanya dicatat oleh Plato. Dalam Al Qur’an juga telah dijelaskan bahwa umat terdahulu musnah karena adanya gempa bumi yang sangat besar.

“Mereka ditimpa gempa bumi, maka jadilah mereka mati bergelimpangan ditempat tinggal mereka”. (QS Al A’raf 7 : 91)

Selain peperangan, gempa bumi, yang menyebabkan kehancuran berbagai bangsa pada jaman dahulu adalah Banjir besar dan juga hujan meteorit, asteroid dan radiasi sinar kosmik.

“Sesungguhnya Kami kirimkan hujan batu kepada mereka (kaum Nabi Luth) kecuali keluarga Luth, Kami selamatkan mereka diwaktu sahur”. (QS Al Qamar 54 : 34)

“Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras mengguntur dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS Al Ankabut 29 : 40)

“Negeri-negeri itu Kami ceritakan kepada engkau hanya sebahagian dari berita-beritanya”. (QS Al A’raf 7 : 101)

“Demikianlah itu adalah sebagian berita penduduk negeri-negeri yang Kami ceritakan kepadamu, diantaranya masih ada bekas-bekasnya dan sebagian telah musnah”. (QS Al Hud 11 : 100)

Berdasarkan sunatullah, sejarah perjalan hidup manusia akan selalu terulang kembali, walaupun dalan suasana yang berbeda-beda, begitupula terjadinya Kiamat Kubro jenis ke 4, akan terus berulang-ulang terjadi, dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan yang sudah buruk menjadi keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Sebelum terjadinya Kiamat Kubro jenis ke 4, dalam Al Qur’an, telah dijelaskan akan muncul Dabbah dari dalam bumi.

”Dan apabila firman Allah akan jatuh atas mereka (datang Kiyamat jenis ke 4), Kami keluarkan dabah dari dalam bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” ( QS An Naml 27 : 82)

”Dan, hanya kepada Allah bersujud apa saja yang berada di langit dan di bumi dan juga Dabah dan malaikat dan mereka tidaklah sombong. Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan. Allah berfirman : ”Janganlah kamu adakan dua Tuhan, hanyasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku hendaknya kamu bertakwa”. (QS An Nahl 16 : 49-51)

Tujuan dari kemunculan Dabbah dari dalam bumi adalah untuk memberitahu akan datangnya bencana besar di muka bumi, sekaligus menyelamatkan manusia yang sudah mengenal Allah agar terhindar dari bencana tersebut. Menurut kaum sufi, pengertian Dabbah adalah :

1.Dabbah adalah nama lain dari Nur Muhammad yang akan muncul dari dalam diri orang-orang yang sudah Ma’rifatullah, yang akan memberi syafaat di waktu bencana terjadi.

2.Dabbah adalah seorang manusia yang mempunyai kesadaran iman yang sangat tinggi, sejajar dengan malaikat, yang akan muncul dari dalam rongga bumi.

Bencana menjelang Kiamat Akhlak akan terjadi dalam bentuk Ad Dukhon, yang mempunyai minimal dua pengertian :

1. Ad Dukhon dalam pengertian Badai Matahari, yang akan mengakibatkan terganggunya sistem medan magnet bumi, sehingga kekuatan medan magnet bumi akan menjadi lemah dan terjadi perpindahan kutub magnet bumi. Dengan melemahnya medan magnet bumi ini, maka secara otomatis sesuai hukum Allah, arah rotasi bumi akan berbalik arah sebaliknya, sehingga matahari terlihat terbit dari arah tenggelamnya. Peristiwa ini menyebabkan kemusnahan sebagian besar kehidupan di muka bumi.

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa badai kabut yang terang, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih” (QS Ad Dukhan 44 : 10-11 &16)

“Hingga apabila Yajuj Majuj (Ajijun Nar = Sinar Api Yang Panas) terbuka, maka mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari Kebangkitan jenis ke 4), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata), Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dalam kegelapan” (QS Al Anbiya 21 : 96-97)

“Bila datang Kiamat (jenis 4), matahari didekatkan kepada manusia sehingga manusia dicairkan oleh sinar matahari".(HR Muslim)

“Ketika hari Kiamat (jenis ke 4) akan tiba, matahari akan terbit dari arah tenggelamnya”(HR Bukhari)

2. Ad Dukhon dalam pengertian kabut debu yang sangat tebal yang berisi gas yang berbahaya, akibat benturan antara permukan bumi dengan benda-benda langit yang masuk dan menghantam bumi. Hal ini diakibatkan karena lemahnya sistem pertahanan medan magnet bumi.

"Ketika hari Kiamat (jenis ke 4) akan tiba, akan muncul bintang yang berekor lagi bersinar terang". (HR Bukhari)

“Kiamat akan terjadi, bila telah muncul suara yang menggelegar (saihah) di bulan Romadhon maka akan terjadi huru hara di bulan Syawal. Kami bertanya : “Suara apakah Ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Suara yang sangat keras (Haddah) di pertengahan bulan Romadhon. Pada malam Jum’at akan muncul suara yang sangat keras yang akan membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari tempat pingitannya, pada malam jum’at di tahun banyak terjadi gempa". (HR Nu’aim bin Hammad)

Ketika bencana Ad Dukhon itu terjadi, ada sebagian manusia yang di kehendaki Allah untuk tetap selamat dan hidup di muka bumi.

“Dan ditiuplah Sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan dibumi, kecuali siapa yang tidak dikehendaki Allah”. (QS Az Zumar 39 : 69)“

"Dan pada hari ditiup sangkakala, maka paniklah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada dibumi, kecuali siapa yang tidak dikehendaki Allah. Dan mereka (yang masih hidup) datang menghadap Allah dengan merendahkan diri”. (QS An Naml 27 : 87)

"Tujuh golongan manusia, yang akan Allah lindungi dalam perlidungan-Nya di Hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya (Hari kiyamat jenis 4) yaitu : Imam yang adil, Pemuda yang hidup dalam beribadat kepada Allah, Laki-laki yang hatinya tergantung dimasjid, Dua orang yang saling mengasihi, yang bertemu dan berpisah karena Allah, laki-laki yang selalu mengingat Allah sambil meneteskan air mata, Laki-laki yang dipanggil oleh wanita kaya dan cantik lantas berkata : “Aku takut akan Allah Tuhan alam semesta”, Laki-laki yang memberikan sedekah dengan secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. (HR Bukhari)

Mereka yang selamat dari bencana Ad Dukhon adalah orang-orang yang sudah mengenal Allah dengan mengamalkan metode Dzikir Khatami.

“Barang siapa yang memahami sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al Kahfi, niscaya diberikan perlindungan oleh Allah di hari Kiamat”. (HR Bukhari)

"Kiamat akan terjadi, bila telah muncul suara yang menggelegar (saihah) di bulan Romadhon maka akan terjadi huru hara di bulan Syawal. Kami bertanya : “Suara apakah Ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Suara yang sangat keras (Haddah) di pertengahan bulan Romadhon. Pada malam Jum’at akan muncul suara yang sangat keras yang akan membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari tempat pingitannya, pada malam jum’at di tahun banyak terjadi gempa. Jika kalian telah melaksanakan sholat subuh pada hari jum’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya dan sumbatlah lubang-lubangnya dan selimuti diri kalian, dan sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan suara menggelegar maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah “Subhanal Qudus, Robbunal Qudus” Karena barang siapa melakukan hal itu akan selamat tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa". (HR Nua’im bin Hammad)

Orang-orang yang selamat dari bencana Ad Dukhon, akan melanjutkan perjalanan kehidupan dimuka bumi ini menuju Jaman Darus Salam

“Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit diganti dengan langit yang lain, dan mereka menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS Ibrahim 14 : 48)

“Dari Sahal bin Sa'ad ra. Katanya : Rasulullah Saw bersabda: "Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun". (HR. Imam Muslim)

“......Kemudian ditiup sekali lagi, lalu tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Dan bersinarlah bumi ini dengan Cahaya Tuhannya dan di bentangkan Kitab Sejati, didatangkan Nabi-Nabi dan Para Syuhada kamudian diputuskan dengan benar, sedang mereka tidak dirugikan”. (QS Az Zumar 39 : 69)

Berdasarkan uraian diatas, maka yang akan selamat dari bencana di hari kiamat jenis ke 4 adalah orang-orang yang telah berhasil mengetahui Rahasia sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al Kahfi, sehingga mampu mempraktekkan metode Menutup Pintu dengan teknik Dzikir Khatami (Dzikir Sambil Menutup Pintu). Sudahkah anda mengetahui bagaimana caranya mempraktekkan Metode Menutup Pintu ? Kalau belum, ikutilah Pelatihan Bimbingan Singkat Menemui Allah, yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Tasawuf Nurul Khatami Jakarta. Anda akan diajarkan dan dibimbing bagaimana mempraktekkan Metode Menutup Pintu dengan Teknik Dzikir Khatami untuk memasuki Lautan Cahaya Ilahi, agar anda terlindungi dari kebinasaan ketika bencana Kiamat terjadi

Rabu, 18 Maret 2009

MEMBAGI KEHORMATAN




Ada beberapa saat sebaiknya kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dalam hal ini adalah agar waktu yang sedikit ini memberi manfaat kepada kita sebagai muslim untuk merenung, dan Insya Allah, dalam perenungan itu ada nilai-nilai yang mempertajam Tauhid kita hanya kepada Allah SWT.

Marilah kita lihat kembali sejarah Islam yaitu ketika masyarakat kota Mekah bergotong royong membangun kembali Baitullah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Mekah. Pada permulaannya mereka nampak bersatu dan bergotong royong mengerjakan pembaharuan Baitullah itu. Tetapi ketika sampai kepada soal peletakkan Batu Hajar Aswad ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan sengit antara pemuka-pemuka Quraisy itu. Pada saat yang kritis itu tercetuslah ide dari Muhammad SAW untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga mereka bersepakat untuk memutuskan bahwa siapapun yang datang dari arah tertentu dan orang itu merupakan orang yang pertama datang, maka dialah yang mempunyai kewajiban untuk mengangkat Batu Hajar Aswad ketempatnya semula.

Orang-orang mengatakan kebetulan tetapi menurut Allah dalam Al Qur’an “tidak ada yang sia-sia dan kebetulan”, tetapi semua yang terjadi sudah dirancang oleh Allah dengan sempurna. Hal ini sesuai dengan firman-Nya : "Ya Tuhan kami,tidaklah Engkau ciptakan semuai ini dengan sia-sia.." (QS Ali Imran 3 : 191)

Bukan suatu kebetulan jika yang pertama kali datang dari arah tertentu itu adalah Muhammad SAW. Maka kaum Quraisy menghimbau agar beliau mengangkat Batu Hajar Aswad ke tempatnya semula, namun demikian bijaksananya Rasulullah SAW dalam mensikapi himbauan tersebut. Beliau mengajak empat orang Pemuka Kabilah untuk mengangkat bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Jadi ada lima orang yang mengangkat Batu Hajar ke tempatnya semula dengan cara menggunakan sorban Rasulullah SAW sebagai tempat untuk mengangkatnya.

Mestinya ada suatu kebanggaan bagi Muhammad SAW, karena mendapatkan kesempatan mengangkat Hajar Aswad tersebut dengan kedua belah tangannya tanpa memerlukan bantuan orang lain. Tetapi bagi Rasulullah SAW, suatu yang terhormat itu ingin dibagi kepada orang lain, agar mereka juga merasa terhormat. Tugas yang mulia itu tidak ingin dimiliki oleh Muhammad SAW sendiri, tetapi beliau juga menghendaki agar semua orang bisa memiliki tanggung jawab yang sama atas satu tugas yang begitu terhormat.

Ini nampaknya suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi kalau kita masuk kepada esensi kejadian tersebut, maka barulah kita paham bahawa itulah ciri jiwa besar seorang Muslim, seorang Muhammad SAW yang telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT.

Marilah kita tengok di kanan-kiri kita, seorang Muslim yang demi mendapatkan suatu kesempatan terhormat dan disangkanya hal itu sebagai kehormatan, maka dia akan melakukan segalanya, kalau perlu teman-temannya disingkirkan dan lawan-lawannya dibantai agar tidak memperoleh kesempatan melakukan pekerjaan yang terhormat tersebut.

Inilah yang harus kita pertanyakan dalam diri kita sendiri. Peristiwa yang mensejarah yang menggambarkan, bawa kehormatan harus dibagi kepada orang-orang yang terdekat, bahkan untuk semua umat manusia. Karena kita tahu bahwa ke empat orang tersebut, mewakili Kabilah yang terdiri dari berbagai macam suku dan kemudian kita bisa baca hikmah dari peristiwa tersebut, agar setiap orang merasa terhormat karena merasa memiliki suatu pekerjaan besar.

Marilah kita renungkan ke dalam diri masing-masing, mestinya kita tidak perlu bersikap egois, kita tidak perlu bersikap individualis dan primordialis dalam menyelesaikan masalah-masalah keagamaan, masalah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan dan masalah apapun juga. Bahkan marilah kita tengok kembali, tak jarang orang harus menyingkirkan teman-temannya. Kalau perlu dengan fitnah, hanya untuk memegang suatu jabatan tertentu yang disangkanya jabatan itu memberikan kehormatan ketika dia pegang sendiri.

Marilah dalam Islam ini, kita praktekkan bahwa sesungguhnya kehormatan yang kita pegang mestinya juga memberikan kehormatan kepada seluruh umat Islam, dimana semuanya memiliki tanggung jawab, rasa kepemilikan, melu handar beni. Dengan demikian Insya Allah, hati seluruh umat Islam akan tetap menyatu di tangan orang-orang bijak di bawah naungan Cahaya Illahi Rabbi.

Sebagai penutup tulisan ini marilah kita renungkan firman Allah dalam Kitab Suci Al Qur’an berikurikut ini :

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari orang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal….” (QS Al Hujurot 49 : 90).

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi bantuan kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan ….” (QS An nahl 16 : 90).

“Dan tolong menolong kamu dalam kebajikan dan taqwa dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung “(QS Ali Imran 3 : 104).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh untuk ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah ….” (QS Ali Imran 3 : 110).

‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amrimu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan masalah itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, sebab yang demikian itu lebih utama bagimudan lebih baik akibatnya…….” (QS An Nisa 4 : 59).

“Dan Dia-lah Allah yang dapat mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun kamu belanjakan semua kekayaan yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang dapat mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al Anfal 8 : 63).